Langsung ke konten utama

Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul
Oleh Hanifah, Tiara Prasetya Nur Arifin, dan Rizkia
(Mahasiswa STAI Persis Garut, jurusan Ilmu Hadits )

A.    Asbabun Nuzul
1.      Pengertian Asbabun Nuzul
Secara bahasa (etimologis), asbab an-nuzul terdiri dari dua kata: asbab (jamak dari sabab yang berarti sebab atau latar belakang).[1] Sabab  juga berarti alasan, illat (dasar logis), perantaraan, wasilah, pendorong (motivasi), tali kehidupan, persahabatan, hubungan kekerabatan, kekeluargaan, kerabat, asal, sumber, dan jalan. Yang di maksud dengan nuzul  di sini ialah penurunan Alquran dari Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena itu, istilah lengkap asalnya adalah Asbabu Nuzulil-Quran yang berarti sebab-sebab turun Alquran. Namun demikian, dalam istilah teknis keilmuan lazim dikenal dengan sebutan asbab/sababun-nuzul saja, tanpa menyertakan kata Alquran karena sudah dikenal luas pengertian, dan maksudnya.[2] Sedangkan menurut istilah (secara terminologis) asbabun nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya:

a.    Menurut Nurcholis Madjid
Asbab an-Nuzul merupakan konsep, teori, atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Alquran kepada Nabi Muhammad Saw., baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat, maupun satu surat.[3]
b.      Subhi as-Shalih
Menyatakan bahwa Asbab an-Nuzul ialah
ما نزلت الآية اوالايات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه
Sesuatu yang karena sesuatu itu menyebabkan satu atau beberapa ayat Alquran diturunkan (dalam rangka) mengcover, menjawab atau menjelaskan hukumnya di saat sesuatu itu terjadi.
c.       Az-Zarqani
Berpendapat bahwa Asbab an-Nuzul adalah keterangan tentang ayat atau rangkaian ayat yang berisi tentang sebab-sebab turunnya atau menjelaskan hukum suatu kasus pada waktu kejadiannya.[4]



d.      Ash-Shabuni
        Asbab an-Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.
e.       Manna’ al-Qathan
Asbab an-Nuzul adalah sesuatu hal yang karenanya Alquran diturunkan untuk menerangkan status (hukum)nya, pada masa hal itu terjadi. Baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.[5]

2.    Perhatian Ulama terhadap Asbabun Nuzul
Para penyelidik ilmu-ilmu Alquran menaruh perhatian besar terhadap pengetahhuan tentang Asbabun Nujul. Untuk menafsirkan Quran ilmu ini diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan mengenai bidang itu. Yang terkenal diantaranya Ali bin Madani, guru Bukhori, Kemudian Al-Wahidi dalam kitabnya Asbabun Nuzul, kemudian al-Ja’bari yang meringkas kitab al-Wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambah sesuatu. Menyusul Syaikhul Islam Ibn Hajar yang mengarang satu kitab mengarang asbabun nuzul, satu jiz dari naskah kitab ini di dapatkan oleh as-Sayuti yang mengatakan tentang dirinya : “Dalam hal ini, aku telah mengarang satu kitab lengkap singkat dan sangat baik serta dalam bidang ilmu ini belum ada satu kitab pun dapat menyamainya. Kitab itu aku namakan Lubabul Manqul fi As-babin Nuzul”[6]

3.      Fungsi Asbabun Nujul Dalam Memahami Alquran
Al Imam Ibnu Taimiyah berkata: Mengetahui sebab Nuzul membantu kita dalam memahami makna ayat, karena sudah terang diketahui, bahwa mengetahui sebab menghasilkan ilmu tentang musabbab. Sebaliknya tidak mengetahui sebab, menimbulkan kesamaran dan kemusykilan dan mendapatkan nash-nash  yang dhahir di tempat musytarak. Lantaran itu terjadilah ikhtilaf. Maka beberapa fungsi Asbabun Nuzul dalam memahami Alquran adalah:
a.        Memahami hukum Allah secara tertentu terhadap apa yang disyariatkan.
b.        Menjadi penolong dalam memahami makna ayat dan menghilangkan kemusykilan-kemusykilan disekitar ayat itu. [7]
c.        Mengetahui sisi-sisi positif (hikmah) yang mendorong atas persyariatan hukum.
d.       Membatasi hukum dengan sebab tertentu bagi mereka yang menganut kaidah ungkapan teks Alquran itu didasarkan atas kekhhususan sebab, bukan pada keumuman teks.
e.        Mengetahui bahwa sebab nuzul itu tidak akan keluar dari koridor hukum ayat tatkala ditemukan pengkhusus.
f.         Mengetahui secara jelas kepada siapa ayat itu ditujukan
g.        Mempermudah pemahaman dan mengokohkan lintasan wahyu Allah kedalam hati orang-orang yang mendengar ayat-ayat Alquran.[8]
4.      Aneka Riwayat Tentang Sebab Turunnya Suatu Ayat
Banyak riwayat mengenai sebab nuzul suatu ayat, inilah sikap seorang mufassir terhadap suatu ayat. Dalam buku Manna Khalil al-Qattan “Mabahiis Fi Ulumil Qur’an”  yang telah diterjemahkan oleh Drs. Mudzakir AS, yang berjudul “Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an”, Bogor: 2010 penerbit Litera AntarNusa, halaman 123-132

a.    Apabila bentuk-bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, seperti: “Ayat ini turun mengenai urusan ini”, atau “Aku mengira ayat ini turun mengenai urusan in”, maka dalam hal ini tidak ada kontradiksi diantara riwayat-riwayat itu. Sebab maksud riwayat-riwayat tersebut adalah penafsiran dan penjelasan bahwa hal itu termasuk kedalam makna ayat dan disimpulkan darinya, bukan menyebutkan sebab nuzul, kecuali bila ada karinah atau indikasi pada salah satu riwayat bahwa maksudnya adalah penjelasan sebab nuzul.
b.    Apabila salah satu bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, misalnya “Ayat ini turun mengenai urusan ini”, sedang riwayat yang lain menyebutkan sebab nuzul dengan tegas yang berbeda dengan riwayat pertama, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang menyebutkan sebab nuzul secara tegas, dan riwayat yang lain dipandang termasuk di dalam hukum ayat.
c.    Apabila riwayat itu banyak dan semuanya menegaskan sebab nuzul, sedang salah satu riwayat di antaranya itu shahih, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang shahih.
d.   Apabila riwayat-riwayat itu sama-sama shahih namun terdapat segi yang memperkuat salah satunya, seperti kehadiran perawi dalam kisah tersebut, atau salah satu dari riwayat-riwayat itu lebih shahih, maka riwayat yang lebih kuatlah yang didahulukan.
e.    Apabila riwayat-riwayat tersebut sama kuat, maka riwayat-riwayat itu dipadukan atau dikompromikan bila mungkin, hingga dinyatakan bahwa ayat tersebut turun sesudah terjadi dua buah sebab atau lebih karena jarak waktu diantara sebab-sebab itu berdekatan.
f.     Bila riwayat-riwayat itu tidak bisa dikompromikan karena jarak waktu antara sebab-sebab tersebut berjauhan, maka hal yang demikian dibawa atau dipandang sebagai banyak dan berulangnya nuzul.
B.   Munasabah Ayat dan Surat
1.      Pengertian Munasabah
          Secara etimologi, munasabah semakna dengan mushakalah dan muqarabah. Yang berarti serupa dan berdekatan. Secara istilah, munasabah berarti hubungan atau keterkaitan dan keserasian antara ayat-ayat Alquran. Jadi munasabah adalah ilmu yang membahas tentang keterkaitan atau keserasian ayat-ayat Alquran antara satu dengan yang lain.
          Berdasarkan kajian munasabah, ayat-ayat Alquran dianggap tidak terasing antara satu dari yang lainnya. Ia mempunyai keterkaitan, hubungan, dan keserasian. hbungan ini terletak antara ayat dengan ayat, atas nama surah dengan isi surah, awal surah dengan akhir surah, antara kalimat-kalimat yang terdapat dalam setiap ayat. [9]
2.      Bentuk-bentuk Munasabah
        Para mufasir melihat banyak bentuk munasabah Alquran. Akan tetapi secara garis besar dapat diklasifikasikan kepada dua bentuk, yaitu zahir (jelas) dan Mudhmar (tersembunyi).
a.         Musabah dzahir terdiri dari beberapa bentuk, yaitu:
1)      Munasabah akhiran ayat
Keseragaman huruf dan bunyi kata akhiran ayat-ayat Alquran terdapat dalam sejumlah surat pendek, bagian-bagian tertentu dari sebuah surat panjang maupun dalam keseluruhan sebuah surat. Seperti:

Qs Al-‘Ashr 1-3
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Qs Al-Fil 1-5
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

Diantara surat-surat lainnya seperti Qs Ar-Rahman 1-8, Qs An-Najm 1-56, Qs. Al-Qomar semua kata penutupnya berakhiran “r”, [10]

2)    Munasabah pembukaan surat dan penutupnya.
Harmoni ditemukan antara pembukaan sebuah surat dan penutupnya. Al-Fatihah dibuka dengan pujian kepada Allah dan ditutup dengan permohonan petunjuk.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
Surah Al-baqarah dibuka dengan penegasan Alquran sebagai petunjuk bagi orang bertakwa dan ditutup dengan penjelasan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, sekaligus bimbingan do’a atas segala kesalahaan atau kelupaan dalam mengikuti petunjuk itu.
الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)
“Alif lam mim. Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engakau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engakaulah penolong kami, Maka Tolonglah kami, terhadap kaum kafir. “
                                               
3)        Munasabah penutup surat dengan awal surat berikutnya.
Akhir Al-Fatihah berbicara tentang petunjuk dan awal Al-Baqarah juga mengungkapkan tentang petunjuk.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)
“Alif lam mim. Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.
                                                                            
                             Penutup surat Al-Maidah menerangkan bahwa kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah subhanah wa ta’ala sedangkan surat Al-An’am dibuka dengan pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan langit dan bumi.
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (120)
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs Al-Maidah 120)”
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ


“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi  dan mengadakan gela dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka (Qs Al-An'am)”[11]

4)      Suatu ayat menyempurnakan penjelasan ayat sebelumnya.
Penjelasan suatu ayat mengenai suatu persoalan kadang-kadang belum sempurna atau lengkap, kemudian ayat berikutnya menyempurnakan penjelasan itu. Hal ini, terlihat dalam Qs Albaqarah ayat 3-5
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5)
“Yaitu, orang-orang yang beriman denganyang ghaib, mendirikan solat dan menafkahkan rezeki yang Kami berikan kepadanya (di jalan Allah). Dan orang-orang yang beriman dengan apa yang diturunkan kepada kamu dan apa-apa yang diturunkan sebelummu, serta mereka meyakini akan adanya hari akhir. Mereka itu mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itu mendapatkan kemenangan”
               Ayat ketiga menjelaskan karakteristik orang-orang yang bertakwa, yaitu beriman dengan hal-hal ghaib, mendirikan solat, dan membantu jalan Allah dengan harta yang dimilikinya. Karakteristik orang bertakwa ini belu tuntas dijelaskan dalam ayat tiga tersebut, maka ayat empat dan lima menjelaskannya lebih lanjut.
5)      Suatu ayat menguatkan isi kandungan ayat lainnya.
Mengenai penjelasan ini bisa di ambil contoh dari QS Al-baqarah ayat 149-150
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (149) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (150)

   “Dan dari manapun kamu keluar, maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Sesungguhnya hal itu benar-benar yang hak, berasal dari Tuhanmua. Dan tiadalah Tuhanmu lalai dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari manapun kamu keluar, maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana pun kamu berada, palingkanlah mukamu kearahnya, agar tidak lagi menjadi Hujjah bagi manusia atasmu kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu. Dan aku benar-benar telah menyempurnakan nikmat-Ku atasmu, semoga kamu mendapat petunjuk.”
          Ayat 149 memperbincangkan kemestian berkiblat ke Masjidil Al-Haram. Dan di antara isi kandungannya ayat 150 juga petintah berkiblat ke Masjidil Haram. Maka Munasabah ayat 149-150 adalah Taukid, yaitu ayat 150 menguatkan ayat sebelumnya.[12]
b.      Munasabah yang tersembuni (mudhmar)
Munasabah ini tidak terlalu jelas pada lahiriahnya, seolah-olah, suatu ayat terasing dari ayat yang lain atau alur pembicaraannya tidak ada ketersambungan. Tatapi apabila dianalisis secara dalam akan terlihat berkaitannya.
1)      Munasabah antara kata dalam ayat.
Harmoni antara kata dengan kata atau ayat dengan ayat lain kadang tidak terlihat. Hubungan itu ditandai dengan huruf athaf, seperti dalam ayat-ayat berikut
يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui” (Qs Saba: 2)

          Huruf athaf pada ayat pertama (wawu) menunjukan keserasian yang mencerminkan perbandingan, seperti masuk dan keluar, turun dan naik, langit dan bumi, rahmat dan azab..
2)      Harmoni ayat Alquran juga terletak pada perhatian terhadap lawan bicara, seperti dalam Firman Allah
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan ; langit, bagaimana ia ditinggikan; dan gunung-gunung bagaimana ditegakan; bumi, bagaimana ia dihamparkan.” (Qs Al-Ghasiyyah 17-20)
               Pemakaian kata unta, langit, gunung, dan bumi secara berurutan demikian rupa bersesuaian dengan kebiasaan lawan bicara yang tinggal di padang pasir, yang kehidupan mereka sangat bergantung pada unta sehingga mereka sangat memperhatikannya. Saat menggembala mereka beratap langit yang tinggi. Untuk berteduh dari sengatan matahari mereka bersembunyi di celah-celah gunung. Bila sore tiba mereka membawa pulang ternak menyusuri hamparan.


Berkenaan dengan harmoni urutan surat pertama sampai dengan kedelapan dalam Alquran, Imam Suprayogo antara lain menyatkan bahwa tepat sekali Alquran di buka dengan surat Al-Fatihah (pembukaan), lalu diikuti al-Baqarah yang mengungkapkan tentang keluarga manusia pertama, yakni Adan dan Hawa dilanjutkan dengan surat berikutnya keluarga Imran (Ali Imran). Dalam sebuah keluarga, wanita (an-Nisa) sangat berperan dalam menyediakan hidangan (Al-Maidah) untuk santapan keluarga. Diantara hidagan itu ada bahan makanan dari binatang ternak (Al-An’am) yang biasa di gembala di tempat tinggi (Al-A’raf) dan pada zaman dahulu rezeki antara lain di peroleh dari rampasan perang (Al-Anfal)
3.        Urgensi Harmoni dalam  Memahami Alquran
Ahli tafsir memulai penafsirannya dengan mengemukakan lebih dulu asbab an-nuzul ayat. Sebagian berrtanya-tanyamana yang lebih baik, memulai penafsiran dengan penguraian abab an-nuzul atau penjelasan tentanng munasabah ayat-ayat. Pertanyaan itu menegaskan kaitan ayat-ayat Alquran dengan keserasian hubungan di dalamnya.
Pengetahuan mengenai kolerasi, harmoni atau munasabah antara ayat-ayat itu bukanlah tauqifi (sesuatu yang ditetakan Rasul), melainkan hasil ijtihad mufassir, buah penghayatan terhadap kemukjizatan Alquran, rahasia retorika dan segi keterangannya yang mandiri. Apabila kolerasi itu halus maknany, harmonis konteksnya, sesuai asas-asas kebahasaan dalam bahasa Arab, kolerasi itu dapat diterima. Bukan berarti para mufassir harus mencari kesesuaian setiap ayat, karena Alquran turun secara bertahap, sesuai dengan peristiwaa-peristiwayang terjadi. Seorang mufassir terkadang dapat mengemukakan munasabah antara ayat-ayat dan terkdang tidak. Oleh sebab itu ia tidak perlu memaksakan diri untuk menemukan kesesuaian itu. Jika demikian maka kesesuaian itu sesuatu yang dibuat-buat dan tidk disukai.
Menyadari kenyataan wahyu dalam Alquran yang tidak bisa dipisah satu dengan yang lainnya, baik antara ayat dengan ayat maupun surat dengan surat, maka keberadaan ilmu munasabah menjadi penting dalam memahami Alquran secara utuh.
Arti penting munasabah untuk memahami Alquran, pertama, dari sisi balaghah, kolerasi antara ayat dengan ayat menjadi keutuhan yang indah dalam tata bahasa Alquran, dan bila dipenggal, maka keserasian


[1] Ahmad Izzan, Ulumul Quran Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Alquran (Bandung Tafakur , 2013). Hal 181
[2] Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur’an. (Jakarta: Rjawali Pers, 2013 )Hlm 204
[3] Ahmad Izzan, Ulumul Quran...... Hal 181
[4] Ahmad Izzan, Ulumul Quran......Hal 181
[5] Manna’ Khalil al-Qattan Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hlm 110
[6] Ibid hlm 106
[7] M. Hasbi Ash Shiddieqy Sejarah dan Pengantar ilmu Quran / Tafsir (Jakarta: PT Bulan Bintang 1990) hlm 64
[8] Muhamad Amin Suma Ulumul Quran (Jakarta, Rajawali Pers 2013)
[9] Kadar M. Yusuf Kadar M. Yusuf Studi Alquran (Jakata: Amzah, 2009)hlm 101
[10] Suryadi, dkk. Dinamika Ulum al-Quran, yogyakarta: Idea Press Yogyakarta, 2015, hlm 27-33
[11] Suryadi, dkk. Dinamika Ulum al-Quran, yogyakarta: Idea Press Yogyakarta, 2015, hlm 27-46
[12] Kadar M. Yusuf Kadar M. Yusuf Studi Alquran (Jakata: Amzah, 2009)hlm 102-103

Komentar

Postingan populer dari blog ini

33. (hadits ke-33)

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أنا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الصَّفَّارُ الْأَصْفَهَانِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ الضَّبِّيُّ ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ دَاوُدَ الْخُرَيْبِيُّ ثنا الْوَلِيدُ بْنُ جُمَيْعٍ عَنْ لَيْلَى بِنْتِ مَالِكٍ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ الْأَنْصَارِيَّةِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: " انْطَلِقُوا بِنَا إِلَى الشَّهْدَةِ فَنَزُورَهَا فَأَمَرَ أَنْ يُؤَذَّنَ لَهَا وَيُقَامَ وَيُؤَمَّ أَهْلُ دَارِهَا فِي الْفَرَائِضِ Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafidz, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Ash-Shafar Al-Ashfahani, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus Adl-Dlabbi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dawud Al-Khuraybi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Jumai’ dari Laila binti Malik dan Abdurrahman bin Khalid Al-Anshari, dari Ummi Waraqah Al-Anshari, bahwa Rasulullah SAW kea...

35.(hadits ke-35)

أنبأ مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَصْرِيُّ، ثنا هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ، ثنا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: " تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ " ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَان ِ وَبَيْنَ السُّحُورِ؟ قَالَ: " قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً ". رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ وَكِيعِ عَنْ هِشَامٍ Telah mengabarkan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas dari Zaid bin Tsabit ia berkata, "Kami pernah sahur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian beliau bangkit untuk melakukan shalat." Anas berkata, "Aku lalu bertanya, "Berapakah waktu antara adzan dan sahur ?" Zaid menjawab, "Seukuran lima puluh ayat." Takhrij Hadits: 1.       Shahih Muslim 2/771 No/ 1097 2.       Sunan Ibn Majah, 2...