Langsung ke konten utama

PERBEDAAN ASMAUL HUSNA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

PERBEDAAN ASMAUL HUSNA DAN SIFAT ALLAH
Oleh: Muhlisin
(Mahasiswa STAI Persis Garut)

A.  Pengertian Sifat Allah dan Asmaul Husna
1.      Pengertian sifat Allah
Sifat Allah adalah Sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah yang ia sifati sendiri  dikabarkan oleh Allah baik dalam Al-quran dan Hadits, tanpa takyif, ta’thil, ta’wil, tamsil.[1]
2.      Pengertian Asmaul Husna
Sebelum kita lebih jauh membahas asmaul husna, perlu kita tahu pengertian asmaul husna.
Asmaul Husna diambil dari dua kata yaitu الأسماء bentuk jama’ dari kata إسم  yang artinya Nama-nama .  dan الحسنى  sighat tafdhil muannats dari kata حسن  yang artinya paling indah. Jadi asmaul husna  adalah nama-nama Allah yang paling indah yang  dirinya ia namai dengan nama-nama itu. dalam al-quran dan sunnah[2]. Allah berfirman
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180  
Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepadanya dengan menyebutnya.” (Al-A’raf[7]: 180)
Rasulullah bersabda:
«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ»
Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh Sembilan Nama, yakno serratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, maka akan masuk surga, sesungguhnya dia itu ganjil menyukai yang ganjil.[3]   
Sebagimana pengertian diatas maka kita sebagai penganut akidah yang berdasarkan Aquran dan Sunnah patut menyikapi Asma dan Sifat Allah, yaitu dengan menafikan beberapa perkara sebagai berikut:[4]
a.       Tahrif, secara bahasa yaitu at-taghyiru wa at-tabdilu,yang artinya merubah. Secara istilah merubah lafad-lafad asmaul husna, sifat-sifat Allah, dan makna-maknanya. Dan ini pun terbagi menjadi dua bagian:
1)      mengubah lafadz dengan menambah, mengurangi, atau mengubah syakal. Seperti perkataan Jahmiyah dan para pengikutnya dalam lafad istiwa dengan menambah lam (ل)  menjadi istaula (إستولى). Dan perkataan orang yahudi,  حنطة  ketika dikatakan kepada mereka ucapkanlah  حطة .
2)      mengubah makna dengan tetapnya lafadz pada tempatnya dan merubah maknanya,. Seperti tafsir sebagian ahli bid’ah, al-ghadlab (marah) dengan maksud al-intiqam (menghukum), ar-rahmah (kasih sayang) dengan makna (memberi nikmat).
b.      Ta’thil, menafikan sifat ilahiyah dari Allah subhanahu wa taala dan mengingkari seluruh dzat Allah atau sebagiannya.
c.       Takyif, bertanya bagaimana, maksudnya menentukan keadaan sifat itu. Imam Malik berkata ketika ditanya tentang istiwa, maka ia menjawab:
الأستواء معلوم, و الكيف مجهول, و الإيمان به واجب, والسؤال عنه بدعة
Al-istiwa itu dimaklumi, dan bagaimananya itu, tidak diketahui, iman terhadapnya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.
d.      Tamtsil, yaitu menyerupakan sifat Allah secara dzatiyyah  dan fi’liyyah. Tamtsil  terbagi kepada dua bagian yaitu:
1)      Menyerupakan makhluk dengan khaliq (pencipta). Sebgaimana orang Nasrani menyerupakan Nabi Isa dengan Allah, dan orang yahudi menyerupakan Uzair dengan-Nya.
2)      Menyerupakan Khaliq dengan makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang menyerupakan, mereka mengatakan bahwa wajah Allah sama dengan wajah makhluk, tamgan-Nya sama dengan makhluk.
B.  Perbedaan Asmaul Husna dan Sifat Allah.
Segala sesuatu tentu memiliki perbedaan dan persamaan. Begitupun asmaul husna dan sifat Allah. Nama dan sifat Allah dan dipakai untuk minta perlindungan akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.  Adapun perbedaan keduanya adalah sebagai berikut:[5]
1.      Dibolehkan memberikan nama abdul di depan nama Allah, dan berdo’a dengannya. Adapun dengan sifat-sifat-Nya itu tidak boleh. Seperti pemberian Abdul Karim (  عبد الكريم) –hamba Yang Maha Mulia-, namun pemberian nama dengan Abdul Karam( (عبد الكرم) –hamba kemuliaan-,  tidak boleh. Begitu pula berdo’a dengan menyeru nama-nama Allah seperti yaa kariim (wahai Yang Maha Mulia), akan tetapi tidak boleh berdo’a dengan menyebut ya karamallah (wahai kemuliaan Allah).
2.      Dari nama-nama Allah diambil sifat-sifatnya. Seperti nama Ar-Rahman, dapat diambil dari nama tersebut Rahmah (kasih sayang) . adapun dari sifat-sifat Allah tidak bisa diambil nama. Seperti sifat Al-Istiwa` tidak bisa dijadikan nama al-Mustawi.
3.      Perbuatan Allah tidak bisa diambil darinya nama yang tidak ada dalam nama-nama Allah. Seperti  perbuatan Allah al-gadlab (marah), tidak bias diambil darinya menjadi al-gladhib (Maha Pemarah). Adapun sifat-sifat-Nya dapat diambil dari perbuatan-Nya.
C.  Sifat-sifat Ilahiah berdasarkan Nash Shahih[6]
Sifat-sifat Allah terbagi kepada tiga macam, yaitu: Dzatiyyah, Ma’nawiyyah, dan Fi’liyyah.
Alquran dan hadits banyak menyinggung tentang sifat –sifat Allah.
Allah memilik dzat yang bersifat sempurna dan terjaga dari kekurangan. Orang yang membaca Alquran ketika berbicara tentang Allah akan mengetahui dengan pasti bahwa Dia memiliki Dzat.
 sebagaimana firman-Nya:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْم
Allah,tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mahahidup, yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al-Baqarah [2]:255)
Dan firman-Nya dalam surat al-ikhlash ayat 1-4.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Katakanlah (Muhammad): ‘Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat begantung semua Makhluk. Dia tidak beranak dan tak diperanakan. Tiada seorangpun yang sebanding dengan-Nya.
Dzat Allah pastinya tidak menyerupai Dzat makhluk, sebagaimana sifat-sifat-Nya tidak sedikitpun menyerupai sifat-sifat makhluk. Allah adalah maha sempurna yang tidak dapat kesempurnaan selain-Nya. Sewaktu  menafikan penyerupaan antara dirinnya dan makhluk-Nya. Dia berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Q.S. Asy-Syuraa [42]:11)
Allah memiliki diri (jiwa) yang sesuai kesempurnaan dan kemuliaann-Nya. Diri Allah sama sekali tidak menyerupai diri makhluk-Nya. Hal itu telah Dia beritahukan kepada kita dalam kitab-Nya yang terang dan tegas.
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (54)
Dan apabila orang-orang yang beriman kepadfa ayat-ayat Kami dating kepadamu, maka katakanlah: ‘Salamun ‘alaikum (salam sejahtera untuk kamu).’ Rabbmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barangsiapa berbuat kejahatan di antara kamukarena kebodohan, kemudian dia bertaubat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am [6]: 64)
            Allah memberitahukan bahwa Dia memoiliki diri. Selanjutnya, Dia menetapkan sifat rahmat pada diri-Nya. Allah menyatakan hal itu pada ayat lainnya:
قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (12)
Katakanlah (Muhammad): ‘Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi? Katakanlah: Milik Allah.’ Dia telah menetapkan sifat kasih dan sayang pada diri-Nya. Dia sungguh akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi..(QS. Al-An’am [6]: 12)
Allah memiliki wajah yang tidak serupa dengan makhluk-Nya. Kita membenarkan dan mengimani hal itu. Dia sendiri yang memberitahukan hal itu dalam kitab-Nya, dan Rasulullah shallallahu ‘alai wasallam memberitahukan dalam banyak haditsnya.
Allah berfirman:
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)
            “Tetapi wajah rabbmu yang memiliki kebesaran dan kemulian tetap kekal.”(QS. Ar-Rahman [64]: 27)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
 “.....segala sesuatu pasti binasa, kecuali (wajah) Allah.” (QS. Al-Qashash [28]: 88)
Allah memiliki kedua tangan yang layak dan sesuai dengan kesempurnaan-Nya. Kedua tangan ini tidak serupa dengan tangan makhluk-Nya.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
Dan orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. Dan mereka dilaknat karena  perkataaan mereka. Padahal kedua tangan Allah terbuka.” (QS. Al-Maidah [5]: 64)
Ketika menghardik Iblis karena tidak mau bersujud kepada Adam, Allah menegaskan:
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75)
 (Allah) berfirman:’Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu besujud kepada yang telah aku ciptakan dengan tangan-Ku….” (QS. Shaad [38]:75)


Allah memiliki jemari yang sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Yaitu jari-jari-Nya yang sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya

Nabi bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ» ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Sesungguhnya hati seluruh manusia ada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, seperti halnyasatu hati yang Dia bolak-balikan sekehendak-Nya.” Kemudian Nabi berdo’a :’ Ya Allah, Pembolak-balik hati, balikanlah hati-hati kami menuju ketaatan kepada-Mu.” (HR. Muslim)[7]
Nabi bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « تَحَاجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتِ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ . وَقَالَتِ الْجَنَّةُ مَا لِى لاَ يَدْخُلُنِى إِلاَّ ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ . قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِى أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِى . وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابٌ أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِى . وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا ، فَأَمَّا النَّارُ فَلاَ تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ قَطٍ قَطٍ قَطٍ . فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ ، وَلاَ يَظْلِمُ اللَّهُ - عَزَّ وَجَلَّ - مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا ، وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا
“Dari Abu Hurairah R.A. bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Surga dan Neraka  berdebat. Neraka berkata:’Aku dipriorotaskan sebagai tempat setiap orang sombong dan para tirani.’ Kemudian Surga berkata:’ Mengapa memasuki hanya kaum yang lemah, hina, dan kaum fakir dari kalangan Manusia?
Allah berfirman kepada Surga: ‘Kamulah rahmat-Ku. Aku merahmati siapa saja yang aAku kehendaki diantara hamba-hambaku denganmu. ‘Dan Dia berfirman kepada Neraka: ‘Kamulah adzab-Ku. Aku mengazab siapa saja yang Aku kehendaki di antara hamba-hamba-Ku denganmu. Tiap-tiap kalian akan terisi penuh. Sementara Neraka tidak akan penuh sampai Allah meletakan kaki-Nya.’
Selanjutnya Neraka berkata: ‘Cukup, cukup, cukup.’ Saat itulah neraka menjadi penuh setelah satu sama lain, dari bagiannya. Disatika oleh-Nya.
Dan Allah tidak berbuat zalim kepada makhluk-Nya, sama sekali. Sementara Surga, sunggug Allah menciptakan makhluk-makhluk untuk memenuhinya.[8]
Kita  wajib mengimani sifat ini dengan seyakin-yakinnya. Tidak boleh mendustakan. Sebab allajh menginformasikannya dalam firman-Nya.
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42)

(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseur untuk bersujud; maka mereka tidak mampu.” (QS. Al-Qalam [68]: 42)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5)
"(Yaitu) Yang Maha Pengasih, Yang bersemayam di atas Arsy.” (QS. Thaha [20]: 5)
         Dalil    lain bahwa Arsy adalah makhluk Allah.
وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ (17)
 Pada hari itu delapan malikat menjunjung Arsy (Singgasana) Rabbmudi atas kepala mereka.” (QS. Al-Haqqah [69]: 17).
            Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ »
“Jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah Surga Firdaus. Sesungguhnya Surga Firdaus itu surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah Arsy Ar-Rahman. Dan dari Arsy terbebut dipancarkan sungai-sungai surga.[9]
Allah, Rabb semesta alam, tertawa kapanpun sesuai kehendaknya. Dia tertawa bagaimana pun kehendak-Nya. Tidak ada yang mengetahui hakikat tertawa Allah Sybhanahu Wataala.
« يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ يَدْخُلاَنِ الْجَنَّةَ ، يُقَاتِلُ هَذَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلُ ، ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيُسْتَشْهَدُ »
“Allah tertawa terhadap dua orang seoprang diantar mereka membunuh yang lainnya, namun kedua-duanya masuk surga. Orang pertama berperang berperang melawan yang lain lalu dia terbunuh (sebagai syahid). Kemudian Allah menerima taubat si pembunuhnya, dan dia pun mati syahid.[10]
D.    Keutamaan Asmaul Husna[11]
Beberapa Faedah mengetahui Asmaul Husna bias diperoleh oleh setiap muslim, yakni nama-nama dan sifat-sifat Allah yang indah. Diantara Faedah dari kota mengertahui Asmaul Husna adalah sebagai berikut:

1.      Mengenal Allah.
Asmaul Husna merupakan saran ayang efektif untuk memperkebalkan kita kepada Rabb semesta alam, bahkan tanpanya, keimanan kepada Allah hanya sekedar pemikiran.  Yang tidak jelas dan tidak bermanfaat.
2.      Memuliakan dan menyanjung Allah
Menyanjung Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat –Nya merupakan pemuliaan dan sanjungan termulia yang bisa kita lakukan. Ini termasuk dzikir agung, yang kita diperintahkan untuk melafalkannya. Sebagaimana firman-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41)
Wahai orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,” (QS. Al-Ahzab [33]: 41)
3.      Berdo’a kepada Allah
Berdo’a dengan nama-nama Allah adalah sangat dianjurkan, dan didalamnya terdapat nama-nama yang agung, sebagimana firmannaya.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)
Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepadanya dengan menyebutnya.” (Al-A’raf[7]: 180)
4.      Bertambahnya Iman
Setiap kali seorang hamba mengetahui salah satu makna dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka saat itu pulalah keimanananya bertambah.

5.      Berhati kuat dan tegar
Karena hamba tersebut bersandar kepada Dzat Yang Mahakuat, Yang Mahakuasa, dan Yang pasti menang.
6.      Menggantungkan hati kepada Allah
Orang yang meyakini bahwasannya rezeki berasal dari Allah semata pasti alkan memintanya secara langsung, tidak melalui perantara selain-Nya. Orang yang mengetahui bahwa Allah bersifat Al-Jabbar (Yang Mahakuasa) akan takut kepada-Nya. Sama halnya baginorang yang mengetahui bahwa diantara nama-nama Allah adalah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), maka dia pun akan senantiasa merasa diawasi, begitupun seterusnya.
7.      Memperoleh ganjaran yang besar
Maksudnya, mengenal Asmaul Husna termasuk Pelajaran termulia yang patut diajarkan. Maka dari itu mempelajari dan mengajarkan nAsmaul Husna tersebut dianggap sebagai sebaik-baik amalan.
­wallahu ‘alam
                                                                             Daftar Pustaka
Al-Asyqar, Umar Sulaiman, Serial Akidah & Rukun Iman: ALLAH ,(Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2014)
Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail binIbrahim, Shahih Bukhari
Al-Muradas, Abu Bakar ahmad bin Ibrahim bin Ismail bin al-‘Abbas bin, I’tiqad A`immatu al-Hadits (Riyadh: Darul ‘Ashimah, 1412 H)
Al-Qahthani, Said bin Ali bin Wahf, Aqidatu al-Muslimi fi dlau`I al-Kitabi Wa As-Sunnati, (Riyadh: Maktabah ad-Da’wah wal Irsyad bilqosbi, 2009)
Hanbal, Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin. Musnad Ahmad. (-: Muasasah Risalah, 2001)
Rahman, Saad bin Abdul, Mafhum Al-Asma`I wa Ash-Shifati (Maktabah Syamilah)
Tafsir Al-‘Usyr al-Akhir






[1] Abu Bakar ahmad bin Ibrahim bin Ismail bin al-‘Abbas bin Al-Murdas, I’tiqad A`immatu al-Hadits, Darul ‘Ashimah: Riyadh, 1412 H HAL 51
[2] Saas ibn Abdul Rahman, Mafhum Al-Asma`I wa Ash-Shifati, maktabah Syamilah, hal 80
[3] Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad Ahmad (: Muasasah Risalah, 2001) Hal 469, Juz 12, no 7502, bab musnad abu Hurairah -makbah syamilah-
[4] Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani, ‘Aqidatu al-Muslimi fi dlau`I al-Kitabi Wa As-Sunnati, (Riyadh: Maktabah ad-Da’wah wal Irsyad bilqosbi, 2009) hal. 156-157
[5] Tafsir Al-‘Usyr  Al-akhir. Hal 86
[6] Umar Sulaiman Al-Asyqar, Serial Akidah & Rukun Iman: ALLAH,(Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2014) Hal. 302-346
[7]  Shahih Muslim (IV/2045, no 2654)
[8] Shahih Bukhari (VIII/595, no 4850)
[9]  Shahih Bukhari (XXIV/271, no. 7423)
[10] Shahih Bukhari (X/244, no. 2826)
[11] Umar Sulaiman Al-Asyqar, Serial Akidah & Rukun Iman: ALLAH,(Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2014) Hal. 403-405

Komentar

  1. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarkatuh. afwan izin bertanya no 3 (perkara hadist menghafal dan mengetahui asmaul husna 99)

    saya baru tahu tentang hadist itu, karna saya pernah dengar hadist yg lain.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

    ”Aku memohon kepada Engkau dengan semua nama yang menjadi nama-Mu, baik yang telah Engkau jadikan sebagai nama diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Mu.”

    HR. Ahmad no. 3712. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3528.

    nah kemudian bagaimana memahami 2 hadist ini ?

    jazakallahu khair

    BalasHapus
  2. Ini lah para majassimmah, dan mutasyabbihat

    BalasHapus
    Balasan
    1. bantah lagi dengan karya paman jangan dengan omomgan nyinyir

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

33. (hadits ke-33)

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أنا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الصَّفَّارُ الْأَصْفَهَانِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ الضَّبِّيُّ ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ دَاوُدَ الْخُرَيْبِيُّ ثنا الْوَلِيدُ بْنُ جُمَيْعٍ عَنْ لَيْلَى بِنْتِ مَالِكٍ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَالِدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ الْأَنْصَارِيَّةِ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: " انْطَلِقُوا بِنَا إِلَى الشَّهْدَةِ فَنَزُورَهَا فَأَمَرَ أَنْ يُؤَذَّنَ لَهَا وَيُقَامَ وَيُؤَمَّ أَهْلُ دَارِهَا فِي الْفَرَائِضِ Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafidz, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Ash-Shafar Al-Ashfahani, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus Adl-Dlabbi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dawud Al-Khuraybi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Jumai’ dari Laila binti Malik dan Abdurrahman bin Khalid Al-Anshari, dari Ummi Waraqah Al-Anshari, bahwa Rasulullah SAW kea...

35.(hadits ke-35)

أنبأ مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَصْرِيُّ، ثنا هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ، ثنا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: " تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ " ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَان ِ وَبَيْنَ السُّحُورِ؟ قَالَ: " قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً ". رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ وَكِيعِ عَنْ هِشَامٍ Telah mengabarkan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas dari Zaid bin Tsabit ia berkata, "Kami pernah sahur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian beliau bangkit untuk melakukan shalat." Anas berkata, "Aku lalu bertanya, "Berapakah waktu antara adzan dan sahur ?" Zaid menjawab, "Seukuran lima puluh ayat." Takhrij Hadits: 1.       Shahih Muslim 2/771 No/ 1097 2.       Sunan Ibn Majah, 2...