كتاب الصلاة -
باب صفة الصلاة
oleh Muhlisin
(Mahasiswa STAI Persis Garut jurusan Ilmu Hadits)
-1عن أبي هريرة رضي
الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثم
استقبل القبلة فكبر، ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن، ثم اركع حتى تطمئن راكعاً، ثم
ارفع حتى تعتدل قائماً، ثم اسجد حتى تطمئن ساجداً، ثم ارفع حتى تطمئن جالساً، ثم
اسجد حتى تطمئن ساجداً، ثم افعل ذلك في صلاتك كلها) ، أخرجه السبعة، واللفظ
للبخاري، ولـ ابن ماجة بإسناد مسلم: (حتى تطمئن قائماً)
Dari Abu Hurairah
Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika
engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudlu' lalu bacalah (ayat)
al-Quran yang mudah bagimu lalu ruku'lah hingga engkau tenang (tu'maninah dalam
ruku' kemudian bangunlah hingga engkau tegak berdiri lalu sujudlah hingga
engkau tenang dalam sujud kemudian bangunlah hingga engkau tenang dalam duduk
lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam dalam
sholatmu seluruhnya." Dikeluarkan oleh Imam Tujuh lafadznya menurut
riwayat Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad dari Muslim: "Hingga
engkau tenang berdiri."
Takhrij Hadits
1.
Shahih Bukhari, juz 8, hal 135, no. 6667
2.
Shahih Muslim, juz 1, 298, no. 397
3.
Sunan ibnu majah, juz 1, 336, 1060
4.
Sunan Abu Dawud, 1, 226, 856
Derajat
Hadits: Shahih
وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ
أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ ( حَتَّى تَتْمَئِنَّ قَائِمًا )
Hal serupa terdapat
dalam hadits Rifa'ah Ibnu Rafi' menurut riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban:
"Sehingga engkau tenang berdiri (mu)."
Derajat hadits: shahih.
Penjelasan
serupa dengan hadits diatas.
وَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ : ( فَأَقِمْ
صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ اَلْعِظَامُ )
Dan menurut lafazh riwayat Ahmad : "Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga
tulang-tulang itu kembali (seperti semula)."
َوَلِلنَّسَائِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ
رَافِعٍ : ( إِنَّهَا لَنْ تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ
اَلْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اَللَّهُ ثُمَّ يُكَبِّرَ اَللَّهَ
وَيَحْمَدَهُ وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ ). وَفِيهَا ( فَإِنْ كَانَ مَعَكَ
قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإِلَّا فَاحْمَدِ اَللَّهَ وَكَبِّرْهُ وهلِّلْهُ
)
Menurut riwayat Nasa'i
dan Abu Dawud dari hadits Rifa'ah Ibnu Rafi'i: "Sungguh tidak sempurnah
sholat seseorang di antara kamu kecuali dia menyempurnakan wudlu' sebagaimana
yang diperintahkan oleh Allah kemudian ia takbir dan memuji Allah." Dalam
hadits itu disebutkan: "Jika engkau hafal Qur'an bacalah jika tidak
bacalah tahmid (Alhamdulillah) takbir (Allahu Akbar) dan tahlil (la illaaha
illallah)."
َوَلِأَبِي دَاوُدَ : ( ثُمَّ اِقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ وَبِمَا
شَاءَ اَللَّهُ )
Menurut riwayat Abu
Dawud: "Kemudian bacalah Al-fatihah dan apa yang dikehendaki Allah."
َوَلِابْنِ حِبَّانَ : ( ثُمَّ بِمَا شِئْتَ )
Menurut riwayat Ibnu
hibban: "Kemudian (bacalah) sekehendakmu."
Syarah Ijmali:
Penyusun
kitab bulughul maram sebagaimana dikutip oleh ‘Athiah Muhammad ibn Salim,Bab
Sifat shalat, artinya membahas tentang sifat-sifat shalat. Menjelaskan tentang
sifat shalat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan
penjelasan dari perkataan dan perbuatan beliau, adapun perbuatan sebagaimana
yang dating dari Nabi SAW. bahwa beliau naik mimbar dan ia terbagi atas tiga
derajat, menghadap kiblat inilah derajat yang ketiga lalu membaca lalu ruku,
kemudian bangkit dari ruku, kemudian turun ke tanah untuk sujud, dan sujud
didasar mimbar, kemudian bangkit dari sujud, kemudian sujud yang kedua,
kemudian berdiri kemudian membaca, ruku, bangkit dari ruku, berdiri I’tidal
kemudian sujud dua kali kemudian tasahud kemudian salam, lalu bersabda:
(صلوا كما رأيتموني أصلي
“Shalatlah kamu
sebagaimana melihat aku shalat,”
Inilah bayyan atau
penjelasan dengan perbuatan. Kami mendapatkan seorang anak meliahat kedua orang
tuanya salat dan ia tidak tahu apa-apa, kemudian ia menceritakan kepada
keduanya tentang apa yang mereka lakukan. Belajar dengan visual dan audio.
Visual itu paling membekas untuk diingat. Pendengaran hanya satu sedangkan
penglihatan banyak. Sebagaiman firman Allah:
{السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ
وَالأَفْئِدَةَ} [النحل:78]
Pendengaran, penglihatan
dan hati.
Sebab wurud hadits ini
sebagaimana dalam lafadz yang diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa seorang
laki-laki shalat, kemudian datang kepada Rasul dan mengucapkan salam kepadanya.
Nabi bersabda kepadanya, “kembalilah dan ulangi shalatmu”!
Sampai berulang hingga
tiga kali Rasulullah menyuruh ia untuk mengulangi shalatnya. Ia berkata:” Demi
dzat yang mengutusmu, aku tidak tahu selain ini, maka ajarkanlah aku.”
Laki-laki ini bersungguh-sungguhb shalat hingga tigak kali. (Syarhu min Bulughil Maram,
‘Athiyah Muhammad bin salim, maktabah
syamilah)
Hadits ini terkenal dengan hadits Masii, Lelaki yang diceritakan
dalam hadits diatas bernama Khalad bin Rafi’. Dinamai Masii
karena menjelekan shalatnya, yang kemudian Nabi mengajarkannya. (Syarh Bulughil
Maram, Abdul karim bin Abdullah)
Dalam hadits ini
Rasulullah memulai dengan mengajarkan yang lazim dari shalat, yaitu bersuci untuk shalat, sabda beliau:
إذا قمت إلى الصلاة؛
فأسبغ الوضوء (Apabila
kamu hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu). Menurut kami (baca: pensyarah),
lelaki itu tidak berwudhu dan Rasullullah tidak melihatnay berwudhu. Dan
disini Rasullah SAW. melihat laki-laki itu tidak memperbagus shalatnya. فأسبغ الوضوء (sempurnakalah wudlu) yaitu wudhu secara sempurna. Pada
perang Tabuk mereka (para sahabat) berwudhu dengan tergesa-gesa. Rasulullah
melihat titik pada tumit mereka. Lalu beliau menyeru dan bersabda:
أسبغوا الوضوء، ويل للأعقاب من النار
(sempurnakanlah wudhu, celakalah bagi tumit-tumit dineraka). أسبغوا الوضوء artinya harus wudhu secara sempurna, yaitu membasauh
anggota-anggotanya.
Sabda Beliau: ثم استقبل القبلة وكبر (kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu takbirlah). Dan
diketahui bahwa laki-laki itu shalat menghadap kiblat, karena ia melihat orang
melakukannya. Berdasarkan Ijma, tidak ada shalat kecuali dengannya kecuali
dalam keadaan darurat, misalnya dalam kendaraan.
وكبر (dan
bertakbirlah) dikenal dengan takbiratul ihram dikalangan para ulama. Yaitu
ucapan الله أكبر .
Selanjutnya sabda
beliau: ثم اقرأ ما تيسر معك من
القرآن (kemudian bacalah apa yang menurutmu mudah
dari Alquran), dalam sebagian riwayat dinyatakan,
إن كانت الفاتحة معك تقرؤها، ثم ما تيسر
من القرآن
Ulama mengatakan bahwa
al-fatihah lah paling mudah dari yang lain, sebagaimana mudahnya al-kautsar. Selanjutnya hingga beliau
mengatakan, “Lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu”
Fikih
hadits:
1.
Wajibnya menyempurnakan wudhu sebelum shalat.
2.
Wajibnya menghadap kiblat yang merupakan syarat sahnya sholat,
sebagaimana pembahasan sebelumnya pada bab syarat shalat.
3.
Rukun pertama Takbir, yaitu Allahu akbar,
4.
Membaca al-quran. Membaca alfatihah.
Jika tidak hafal sama sekali, maka membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.
5. Diharuskan ruku, I’tidal, sujud, dan duduk dengan
tumaninnah.
6. Metode
pengajaran Rasulullah SAW.
.
َوَعَنْ
أَبِي حُمَيْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى
الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ
يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرِهِ فَإِذَا رَفَعَ
رَأْسَهُ اِسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ
وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ
بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ اَلْقِبْلَةَ وَإِذَا جَلَسَ فِي
اَلرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اَلْيُسْرَى وَنَصَبَ اَلْيُمْنَى
وَإِذَا جَلَسَ فِي اَلرَّكْعَةِ اَلْأَخِيرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اَلْيُسْرَى
وَنَصَبَ اَلْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ ) أَخْرَجَهُ
اَلْبُخَارِيُّ
Abu Hamid Assa'idy
Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam takbir beliau mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya bila
ruku' beliau menekankan kedua tangannya pada kedua lututnya kemudian meratakan
punggungnya bila mengangkat kepalanya beliau berdiri tegak hingga tulang-tulang
punggungnya kembali ke tempatnya bila sujud beliau meletakkan kedua tangannya
dengan tidak mencengkeram dan mengepalkan jari-jarinya dan menghadapkan ujung
jari-jari kakinya ke arah kiblat bila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di
atas kakinya yang kiri dan meluruskan (menegakkan) kaki kanan bila duduk pada
rakaat terakhir beliau majukan kakinya yang kiri dan meluruskan kaki yang kanan
dan beliau duduk di atas pinggulnya. Dikeluarkan oleh Bukhari.
Derajat
Hadits:
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh
Bukhari dalam shahihnya bab sunat al-julûsa fittasyahudi, no.828
Takhrij Hadits:
1.
Shahĭh
Ibnu Khuzaimah, Juz I, hal 324, no 643, dalam Maktabah Syamila
2.
Shahĭh
Ibnu Hibbân, Juz V, hal 186
3.
Sunan
al-Baihaqi dârul bâz, Juz II, hal 26
Syarah
Hadits:
Hadits ini menunjukan bahwa shalat dimulai dengan takbiratul ihram
sambil mengangkat kedua tangannya, dalam takbir ini ada
tiga macam, pertama takbir dan mengangkat tangan secara bersamaan. Kedua,
takbir dahulu kemudian mengangkat tangan. Ketiga mengangkat tangan baru takbir.
Semuanya adalah boleh.
Rasulullah SAW. ruku dengan meratakan punggungnya, yakni tidak
terlalu rendah dan tidak terlalu mengangka, sampai pungung itu sejajar dengan
kepala. Inilah yang lebih utama. Beliau menekankan kedua tangan pada kedua
lututnya. Para ulama mengatakan, dengan meregangkan jari (akan datang pada
hadits kemudian-pen). (Syarah Bulughul maram, utsaimain)
Dalam Taudhihul ahkam Al-bassam menyebutkan: al-Hafidz berkata:
yang meriwayatkan tentang mengangkat kedua tangan ketika takbir ada 50 sahabat
diantaranya sahabat yang dijamin masuk surga, dan inipun pendapat imam yang
empat.
Selanjutnya, beliau bangkit dari ruku sampai tulang-tulang punggungnya
kembali ketempatnya. فَقَارٍ, adalah jama’ dari
faqȋrah, yang artinya, tulang punggung. (al-munawir, hal 1066).
Dalam
kitab subulussalam, imam ash-shan’ani menyebutkan riwayat abu dawud bahwa nabi
mengucapkan, sami’allohu liman hamidah, allohumma robbanaa lakal hamdu ketika
bangkit dari ruku, insya allah akan dijelaskan pada hadits-hadits yang akan
datang. Selanjutnya, ketika beliau sujud
menyimpan tangannya tanpa mencengramkan hastanya, dan merapatkan
jari-jarinya, dan menghadapkan kedua ujung kakinya ke arah kiblat. Ketika
beliau duduk pada rakaat kedua, beliau duduk diatas kaki yang kiri dan
menegakan kaki kanan, pada tahiyyat akhir beliau memajukan kaki kirinya dan
menegakan yang kanan, dan beliaubduduk diatas pinggulnya. (subulussalam, hal 162-163,)
Fikih Hadits:
1. Mengangkat
tangan ketika Takbiratul ihram.
2. Ruku
dengan meratakan punggung dan kepala, serta tangan mencengkram pada lutut
dengan merenggangkan jari.
3. Tidak
boleh menjulurkan hasta ketika sujud.
َوَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ
اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى اَلصَّلَاةِ قَالَ
: "وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَّرَ اَلسَّمَوَاتِ " . . . إِلَى
قَوْلِهِ : "مِنْ اَلْمُسْلِمِينَ اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَلْمَلِكُ لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ . . . ) إِلَى
آخِرِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : أَنَّ ذَلِكَ فِي
صَلَاةِ اَللَّيْلِ
Dari Ali bin Abu Thalib
Radliyallaahu 'anhu dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: Bahwa bila
beliau menjalankan sholat beliau membaca: "Aku hadapkan wajahku kepada
(Allah) yang telah menciptakan langit dan bumi --hingga kalimat-- dan aku
termasuk orang-orang muslim Ya Allah Engkaulah raja tidak ada Tuhan selain
Engkau Engkaulah Tuhanku dan aku hamba-Mu-- sampai akhir. Hadits riwayat
Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Bahwa bacaan tersebut dalam
shalat malam.
Takhrij Hadits:
1. Musnad
Ahmad bin hambal, bab musnad ‘ali, juz 1, hal 485dan 516. Dengan do’a yang
lengkap.
2. Sunan
Ad-daramy, juz 2, hal 788.
3. Sunan
Abu Dawud, Juz 1, hal 201.
4. Sunan
At-Tirmidzi, Juz 5, Hal 360.
5. Sunan
An-Nasa`i, juz 2, hal 129.
6. Shahih
Ibnu Khuzaimah, juz 1, hal 236.
Derajat Hadits: Hadits ini Shahih, diriwayatkan
oleh Imam Muslim.
Syarah Hadits:
Hadits ini dari ‘Ali bin Abi
Thalib, apakah dibaca ketika shalat atau diluar shalat? Ia menjawab: ketika shalat, yakni setelah takbiratul ihram.
Lengkapnya adalah:
وَجَهت وجهى للذي فطر السموات والأرض حنيفاً وما أنا من
الشركين، إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لاشريك له، وبذلك أمرت
وأنا أوّل المسلمين، اللهم أنت الملك، لا إله إلا أنت، أنت ربي وأنا عبدك، ظلمت
نفسي واعترفت بذنبي، فاغفر لي ذنوبي جميعاً، لا يغفر الذنوب إلا أنت، اللهم اهدني
لأحسن الأخلاق، لايهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عني سيئها، لا يصرف عني سيئها إلا
أنت، لبّيك وسعديك , والخير كلَّه في يديك، والشر ليس إليك، أنا بك وإليك، تباركت
وتعاليت، أستغفرك وأتوب إليك
Dalam do’a diatas menerangkan kebesaran Allah,
dan mengenal Rububiyyahnya.
Wajahtu
Wajhiya,
(aku hadapkan wajahku), yaitu kepada dzat yang berhak aku menghadapkannya
dengan sebab keagungan dan kekuasaannya. Hanifan, yaitu bebas dari
syirik dan berserah diri karena Allah. Wa mâ ana minal musyrikin,
berlepas diri dari syirik. قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الأنعام:162] ، (Sesunggiuhnya, Shalatku,
Penyembelihanku, hidupku, dan matiku, karena Allah tuhan semesta alam.
Mahya,
mashdar
miim, artinya kehidupan,, karena Allah. Jual beli, bekerja. Semua mencari ridha
Allah.
Do’a ini biasa dibaca oleh Nabi
ketika Shalat Malam. (Syarah bulughul maram, ‘Athiyah Salim)
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ
اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً
قَبْلِ أَنْ يَقْرَأَ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : "أَقُولُ :
اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ
اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَّ نقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا
يُنَقَّى اَلثَّوْبُ اَلْأَبْيَضُ مِنْ اَلدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اِغْسِلْنِي
مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Abu
Hurairah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bila telah bertakbir untuk sholat beliau diam sejenak sebelum membaca
(al-fatihah). Lalu aku tanyakan hal itu kepadanya. Beliau menjawab: "Aku
membaca doa: Ya Allah jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana
telah Engkau jauhkan antara Timur dengan Barat. Ya Allah bersihkanlah diriku
dari kesalahan-kesalahan sebagaimana telah Engkau bersihkan baju putih dari
kotoran. Ya Allah cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air es dan
embun." Muttafaq Alaihi.
Derajat Hadits: Shahih.
Takhrij Hadits:
1. Musnad
Ahmad Ta’liq syakir, musnad abu hurairah. Juz
7, hal 15.
2. Sunan
Ad-Darami, juz 2, hal 792.
3. Shahih
Bukhari, juz 1, 149
4. Shahih
Muslim , juz 1, 194
5. Sunan
Abu Dawud, juz 1, hal 207.
Syarah Hadits:
Dalam hadits ini mengandung do’a iftitah,
yaitu dibaca setelah takbir sebelum al-fatihah. Sahabat bertanya
kenapa Rasul diam, apa yang dilakukan. Ini menunjukan bahwa do’a itu dibaca
secara sirr.
Do’a ini mengandung penjelasan bahwa
kesalahan dan kebaikan itu takan pernah bersatu seperti halnya timur dan barat.
Maka do’a ini menjadi pilihan antara hadits ‘Ali dengan hadits Abu Hurairah R.A. ini.
َوَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : ( سُبْحَانَكَ
اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اِسْمُكَ وَتَعَالَى
جَدُّكَ وَلَا إِلَهُ غَيْرُكَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِسَنَدٍ
مُنْقَطِعٍ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ مَوْصُولاً وَهُوَ مَوْقُوفٌ
Dari Umar Radliyallaahu
'anhu bahwa (setelah bertakbir) beliau biasanya membaca: "Maha suci Engkau
Ya Allah dengan pujian terhadap-Mu Maha berkah nama-Mu tinggi kebesaran-Mu dan
tidak ada Tuhan selain diri-Mu." Riwayat Muslim dengan sanad yang terputus
(hadits munqothi'). Riwayat Daruquthni secara maushul dan mauquf.
َوَنَحْوُهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا عِنْدَ اَلْخَمْسَةِ.
وَفِيهِ : وَكَانَ يَقُولُ بَعْدَ اَلتَّكْبِيرِ : ( أَعُوذُ بِاَللَّهِ
اَلسَّمِيعِ اَلْعَلِيمِ مِنَ اَلشَّيْطَانِ اَلرَّجِيمِ مِنْ
هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ )
Hadits serupa dari Abu
Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Lima secara
marfu'. Dalam hadits itu disebutkan: Beliau biasanya setelah takbir membaca:
"Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari
setan yang terkutuk dari godaannya tipuannya dan rayuannya."
Derajat Hadits: SHAHIH
Takhrij Hadits:
1.
Sunan ad-darami, Juz 2, hal 789.
2.
Shahih Muslim, Juz 1, h 299.
3.
Sunan Ibnu Majah, JUZ 1, HAL 264.
4.
SUNAN at-Tirmidzi, Juz 2, h 9.
Syarah
Hadits:
Hadits
diatas merupakan do’a iftitahbyang lain yang
boleh kita baca. Meskipun yang lebih shahih adalah perbuatan umar. Namun
Nabi setuju, dan ini merupakan Sunnah taqririyyah.
Imam
Ahmad sebagaimana dikutip ash-Shan’ani berkata: Adapun aku berpendapat apa yang
umar riwayatkan, meskipun orang beristiftah dengan do’a lain. Itu juga. Baik.
(subulussalam, maktabah thobi’iyyah putra semarang,tt hal 165)
وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ
عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَفْتِحُ
اَلصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ : بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
اَلْعَالَمِينَ ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ
يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ . وَكَانَ إِذَا رَفَعَ مِنْ
اَلرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا . وَإِذَا رَفَعَ مِنْ
اَلسُّجُودِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا . وَكَانَ يَقُولُ فِي
كُلِّ رَكْعَتَيْنِ اَلتَّحِيَّةَ . وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ اَلْيُسْرَى
وَيَنْصِبُ اَلْيُمْنَى . وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ اَلشَّيْطَانِ
وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ اَلرَّجُلُ زِرَاعَيْهِ اِفْتِرَاشَ اَلسَّبُعِ .
وَكَانَ يُخْتَمُ اَلصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
وَلَهُ عِلَّةٌ
“ ‘Aisyah Radliyallaahu
'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasanya membuka
sholat dengan takbir dan memulai bacaan dengan alhamdulillaahi rabbil 'alamiin
(segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam). Bila beliau ruku' beliau tidak
mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya tetapi pertengahan antara
keduanya; bila beliau bangkit dari ruku' beliau tidak akan bersujud sampai
beliau berdiri tegak; bila beliau mengangkat kepalanya dari sujud beliau tidak
akan bersujud lagi sampai beliau duduk tegak; pada setiap 2 rakaat beliau
selalu membaca tahiyyat; beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan
kakinya yang kanan; beliau melarang duduk di atas tumit yang ditegakkan dan
melarang meletakkan kedua sikunya seperti binatang buas; beliau mengakhiri
sholat dengan salam. Hadits ma'lul dikeluarkan oleh Muslim.
Derajat Hadits; Shahih
Takhrij Hadits:
1.
Shahih Muslim, Juz 1, Hal 357.
Syarah
Hadits:
Hadits
ini semakna denhan hadits, hadits sebelumnya bahwa Nabi SAW. memulai Shalat dengan takbir. Baik sholat wajib maupun
sunnat, secara umum. Atau shalat jenazah yang secara khusus pelaksanaan nya
berbeda.
كان disana menunjukan suatu
yang dilakukan terus menerus (istimrar). Karena setelahnya ada fiil
mudhare,. Dan nabi memulai bacaan dengan
Alhamdulillah, ini menunjukan bahwa bismillah itu bukan bagian dari al-fatihah.
( Al-badru at-Tamâmu Syarhu Bulughil Marâm, juz 3, hal 44)
Para ‘Ulama berbeda pendapat tentang status
basmalah, ada yang berpendapat bahwa itu bagian dari surat an-Naml saja, tetapi
Ibnu ‘Abbas, Ibnu Umar, ‘Atha`, Tsauri, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bahwa itu
dari al-fatihah. (Catatan kaki, al-badru
at-Tamam, syarhu Bulughil Maram, hal 44)
Rasulullah SAW. Ruku dengan meratakan punggungnya. Rasulullah
melarang duduk seperti syetan, yaitu seorang lelaki melekatkan pantatnya dengan
bumi, dan menegakan kedua betisnya dan pahanya, dan meletakan tangannya diatas
bumi.
َوَعَنْ
اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه
وسلم كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا اِفْتَتَحَ
اَلصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ
مِنْ اَلرُّكُوعِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua
bahunya ketika beliau memulai shalat ketika bertakbir untuk ruku' dan ketika
mengangkat kepalanya dari ruku'. Muttafaq Alaihi
Takhrij Hadits
1. Shahih Bukhari, juz 1, hal 148, no 735
2. Musnad ahmad, bab musnad Abdullah bin Umar, no 5843
.
َوَفِي
حَدِيثِ أَبِي حُمَيْدٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ : ( يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى
يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يُكَبِّرَ )
Dalam hadits Abu Humaid menurut riwayat Abu
Dawud: Beliau mengangkat kedua tangannya sampai lurus dengan kedua bahunya
kemudian beliau bertakbir.
وَلٍمُسلم عن مالك بن الحويرث - رضي الله
عنه - نحو حديث ابن عمر، ولكن قال: حتى يحاذي بهما فروع أذنيه
Komentar
Posting Komentar